Susah tau jadi org yg terlalu sensitif seperti aku.. Apa-apa tersinggung, ada yg gk menyenangkan hati nangis, mood cepat berubah... Gk enak tau seperti itu...
Dan hari ini aq ngalamin lagi sesuatu yg ngerubah mood q.. Org yg aq fans selama ini ternyata kalo ngomong pedes juga.. Sakit tau. Padahal aq udh mnjaga sikap supaya dy gk ngerasa terganggu. Eh tau2 x dia ngomong gitu.. Mkasih dech. Tapi apapun yg kmu katakan aq gk akan berhenti mengidolakan kamu. 'N'
Mitha Dwi Lestari
Blog yang berisi catatan-catatan tanganku.
Minggu, 02 November 2014
2 Nov 2014 #twitter
Sabtu, 27 September 2014
Kamis, 26 Juni 2014
Cerita Cinta Romantis dan Sedih
Cintaku Berujung Dibatu Nisan
Aku Tasya Chintya Tasya, gadis berusia 17 tahun yang sedang mengalami masa puber. Masa-masa yang indah sebelum menghadapi permasalahan dimasa dewasa nanti.
Skip...!
Hari ini aku telat lagi. Ketika tiba di sekolah aku melihat koridor kelas sangat lengang. ‘uuh aku harus ke meja piket lagi untuk mendapatkan izin masuk kelas’. Setelah melewati pertanyaan yang berbelit-belit dari petugas piket, aku pun berhasil mendapatkan izin masuk kelas.
Tok..tok..tok “misi bu..” kata ku dengn gugup. ‘aduh gawat ibu Lusi lagi, mampus gue’ pikir ku. “masuk.!” Sebuah jawaban ketus dilontarkn dari seorang guru muda yang super judes. Aku masuk sambil menundukkan kepala. “duduk” aku terperanjat. ‘tumben’. Aku langsung melangkah ke tempat duduk ku. Namun langkah ku terhenti saat melihat kursi ku telah diisi oleh seorang cowok yang aku rasa baru kali ini aku melihatnya.
“siapa loe, maaf loe nempatin kursi gue” kataku dengan ketus pada cowok yang lumayan manis itu.”maaf tapi gue tadi disuruh duduk disini sama ibu Lusi” katanya sambil menoleh ke arah ibu Lusi untuk meminta pembelaan . “Lara kamu cari saja kursi yang lain. Masih banyak tuh yang kosong, di samping Jono juga ada” kata bu Lusi sambil menunjuk ke arah cowok paling cupu di sekolah. Jono menurunkan kacamata tebalnya ke hidung dan melihat ke arahku sambil mamainkan alisnya dan itu membuat aku tak betah melihatnya lama-lama.
“kenapa gk dia aja sih bu” kataku sambil melengos ke arah cowok yang duduk di kursiku. Aku heran koq aku jadi berani melawan guru paling killer di sekolah itu. “Lara, dia kan murid baru, seharusnya kamu beri kesan yang baik padanya. Oke kalo kamu gk mau duduk di samping Jono kamu keluar saja...!” ibu Lusi marah besar . “ya udah gue duduk dekat Jono aja” kataku sembari menundukkan kepala.
***
Saat istirahat, aku yang masih kesal dengan anak baru itu segera menghampirinya . “eh anak bar..” , “Aditya Ahmadinata” katanya memotong pembicaraan ku sambil mengulurkan tangan. Aku menepiskan tangannya. “gue gk peduli dengan nama loe, yang gue peduli hanya kursi gue yang bakal ketularan penyakit sombong dari loe yang duduk di atasnya. Loe pikir untuk mendapatkan kursi ini segampang itu heh. Gue mesti tabok-tabokan dengan Andriel tau”. Mendengar namanya disebut, sepasang telinga berdiri tegak. “apa..? loe mau protes ?” kataku sambil melotot pada Andriel yang duduk di sebelah si ‘anak baru’. “ yee enak aja, justru gue mau meng-iya-kan perkataan loe” kata Andriel yang seketika menciut karena dipelototin seperti itu.
“Terus terus gue mesti ngapain hah ?” tanya Adit sambil mengeluarkan I-Pad dari dalam tas hijaunya. Lalu ia memainkannya dengan ekspresi datar tanpa memperhatikan wajah imut ku yang seolah-olah hangus terbakar.
Menunggu beberapa saat tak ada jawaban, dia menoleh ka arahku. “atau mesti gue bayar ?” katanya sambil mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan dari dalam dompetnya. Plakkk.. tanpa sadar tanganku melayang ke wajahnya. “loe pikir dengan kekayaan loe bisa membeli semuanya, loe pikir uang bisa membayar apa aja yang loe inginkan, nggak... harga diri gk bisa di beli dengan apapun” aku berusaha menahan tangis sehingga membuat mataku terlihat berkaca-kaca.
Adit menatapku dengan tatapan tak percaya atas kelakuanku padanya.
“loh memangnya salah ? salah aku ngelakuinnya ? bukannya ini yang kamu mau, orang seperti kamu ini baru akan diam jika mulutnya ditutupi dengan uang” katanya santai. “eh loe ngomong hati-hati ya” kataku dengan wajah yang merah padam. “oke kalo loe gk mau” katanya sambil memasukkan kembali uangnya kedalam dompet. “baiklah gue sebagai cowok akan mengalah pada makhluk lemah seperti loe, ettss.. satu lagi, loe makin manis dalam keadaan seperti ini” katanya sambil menunding wajahku seraya pergi sambil menenteng tasnya disebelah bahu.
Hueff.. aku menghempaskan tubuhku di kursi yang sejak tadi menjadi rebutan antara aku dan Adit. Aku tidak jadi ke kantin, rasa lapar yang sejak tadi memberontak kini tidak terasa lagi. Aku hanya merebahkan kepalaku di meja. Rasanya sakit banget. Memang ini sudah menjadi kebiasaanku, jika terlalu emosi kepalaku pasti akan terasa berat dan aku telah menganggap itu hal biasa.
Tiba-tiba aku merasa sangat dingin. Aku mengambil jaket Andriel yang dia simpan di kursinya. Segera kukenakan jaket itu. ‘selagi orangnya gk ada’ pikirku. Aku sempat melirik Adit di seberang mejaku. Dia menoleh ke arahku dan kemudian asyik lagi dengan I-Pad hijaunya. Aku menghela napas panjang dan tiba-tiba aku merasa dingin itu datang lagi. Setelah itu aku tidak merasakan apa-apa lagi.
***
Aku terbangun ketika aku merasa ada yang menyentuh tanganku. Aku melihat keadaan sekitar. Hijau. Oh aku mulai bisa mengingat. Ini adalah UKS sekolahku. Mataku tiba-tiba terhenti pada sosok yang sangat aku kenal dan sedang memegani tanganku.
Aku terperanjat dan langsung terduduk sembari menarik tanganku. Aku ingin berteriak dan memaki namun kepalaku tiba-tiba serasa berputar. Aku berusaha menenangkan diri sambil memegang kepalaku.
“ngapain loe disini ?” tanyaku ketus.
“gue mau minta maaf sama loe” katanya menunduk
“loe pikir semudah itu ?” sungutku. “terus gue mesti ngapain supaya loe mau maafin gue ?” tanya Adit memelas. “gk perlu” jawabku sambil memalingkan wajah darinya. “please Sya, maafin gue” Adit mengambil tanganku dan menggenggamnya erat. Aku membiarkannya. “Sya loe jawab gue dong” Adit menolehkan wajahku agar melihatnya.
“sya, loe nangis ?” Adit terlihat panik. “gue gk apa-apa” aku terharu melihat perubahan sifat Adit. “hmm ya udah, oh iya kamu lapar gk ? aku beliin bubur ayam ya buat kamu” aku hanya mengangguk.
Ketika Adit keluar. Teman-teman sekelasku datang. “loe gk apa-apa sya ?” tanya Andriel. “nothing, don’t worry. I’m fine” kataku menenangkan. “bener nih gk kenapa-kenapa, kita-kita khawatir loh pas ngeliat Adit gendong loe ke UKS” cerocos May. “hah yang benar ?” seruku gk percaya ‘apa, Adit gendong gue, gk salah tuh’ batinku. “iya Sya, memangnya kenapa ?” tanya Tari. Aku baru sadar ternyata waktu pertengkaran itu terjadi kelas sedang kosong. Hanya aku dan Adit yang ada di kelas. Aku hanya diam menghadapi pertanyaan itu.
Untungnya Adit datang. “ah kalian..” Adit terkejut melihat teman-temanku namun ia berusaha tersenyum. “kenapa loe, koq sepertinya kaget banget abis ngeliat hantu ya “ kata May. “iya tadi gue abis ngeliat hantu bandit” katanya melucu untuk menutupi keterkejutannya. Kami hanya tersenyum melihat tingkahnya. “ya udah Sya kami ke kelas dulu ya, udah waktunya masuk nih” sahutTina yang sedari tadi hanya terdiam. “oh iya tolong beritahu guru gue gk bisa masuk soalnya gue jagain Tasya” kata Adit. “loe masuk kelas aja Dit, gue gk apa-apa” kataku. Adit menatap tajam padaku “nggak”. “ya udah, daagh kita-kita balik dulu ya” kata Andriel sambil mengedipakan mata ke arahku. Aku melempar gumpalan kertas padanya. Teman-teman hanya tertawa.
***
Kepergian teman-teman membuat suasana hening seketika. Adit mengambil piring dan sendok di dapur UKS. “haduh akhirnya gue nemu piring juga walaupun sempat nyasar ke toilet” katanya sambil nyengir. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
“loe makan ya” kata Adit sambil menyodorkan sendok berisi bubur ke mulutku. “gue bisa makan sendiri Dit” aku mengambil sendok di tangan Adit. “biar gue yang suapin” katanya lagi. “gk Dit gue bisa makan sendiri” aku berusaha menarik sendok dari dari tangan Adit sehingga bubur di sendok itu tumpah mengenai wajah dan leherku.
“auuh panas..” teriakku. “sya loe gk apa-apa ?” tanya Adit sambil buru-buru membuka sweeter yang ia kenakan lalu dengan perlahan membersihkan bubur yang belepotan di wajahku.
“ehemm..” suara gumaman itu menghentikan aksi Adit. “ibu..” seruku terkejut. Ternyata ibu Atie petugas UKS datang membawa teh hangat. “diminum ya tehnya” kata ibu Atie sambil tersenyum lebar. Adit bengong. “huss kesambet ntar loe” kataku sambil mengusap wajahnya. Adit hanya tersenyum.
Pulang sekolah, Adit nawarin untuk ngantarin aku pulang naik motor CBR silvernya. Aku mau aja daripada panas-panas nunggu jemputan. Lagian sudah lama gk pernah naik motor.
Tiba di rumah, mama menghampiriku dan melempar sebuah surat padaku. “apa itu Tasya, kenapa kamu tidak kontrol selama empat bulan ini. Kamu kan seharusnya kontrol dua minggu sekali” mama mulai ngoceh. “tapi mah Tasya sudah merasa baikan” jawabku gk mau disalahkan. “Tasya kamu dengerin mama, yang tahu kesehatan kamu itu dokter atau kamu ? kamu bisa saja merasa sehat tetapi sebenarnya dalam tubuh kamu itu banyak penyakit” mama mulai berceramah lagi. Aku hanya menunduk “tapi mah..”. Tasya, dengar mama” mama mencekal bahuku. “kalo kamu tidak kontrol lagi sama dokter Ahmad kamu akan mama berhentikan dari sekolah. Kamu ngerti Tasya” tanya mama tegas.
“mah, mama dengerin Tasya dulu, Tasya gk kenapa-kenapa koq” aku mempertahankan pendapat. “oke kalau itu mau kamu, mulai besok tasya gk usah sekolah. Tasya ingat, kamu itu kanker otak. Kamu gk boleh terlalu banyak berpikir kamu boleh sekolah tapi kamu harus kontrol. Kalau kamu gk mau kontrol berarti kamu gk boleh sekolah”. “aahh mama” aku menghentakkan kaki lalu masuk ke kamar dan membanting pintu.
Aku menghempaskan tubuhku diranjang pink kesayanganku dan membenamkan wajahku diteddy bear biru. ‘kenapa sih aku gk bisa meraskan kebahagiaan sedikitpun. Aku selalu diatur inilah, itulah. Inikan hidupku kenapa mereka yang atur sih’. Aku merasa kepalaku panas dan ada sesuatu yang meleleh dari hidungku. Aku merabanya. Darah. Tiba-tiba aku merasa kepalaku sangat pening dan setelah itu semuanya gelap.
***
Aku tersadar ketika aku merasa sakit dipergelangan tanganku. Aku tak mampu bergerak ternyata perwat sedang memasang infus. Aku merintih perlahan. Setelah selesai, perawat itu meninggalkan aku sendirian. Aku melihat sekelilingku. Berwarna biru. ‘oh aku tau, ini kamar VIP di rumah sakit kasih bunda’ batinku. Aku tau persis kamar ini karena aku pernah menjenguk temanku yang sakit beberapa minggu lalu.
Tiba-tiba pintu terbuka. Aku melihat mama dan papa masuk sambil membawa dua kantong plastik. “kamu ganti baju dulu Sya” kata mama datar. Aku melirik pakaian yang aku kenakan, masih pakai baju sekolah. Aku mencoba duduk namun tubuhku terasa lemas. Papa menghampiriku dan membantuku duduk.
Setelah berganti pakaian, aku makan bubur yang dibawa mama. Aku jadi teringat Adit. Aku tersenyum. jam sudah menunjukkan pukul 07:30, setelah minum obat dari dokter akupun tertidur pulas.
***
Huuff.. ku hela napas panjang di jendela kamar. Segarnya pagi ini, jam masih menunjukkan pukul 05:15. Aku melihat mama masih tertidur di sofa sepertinya ia lelah sekali. Aku berjalan ke toilet sambil membawa cairan infus, ku cuci wajahku dan sedikit membasuh tubuh.
Hari ini sepi. Sesuai pesanku mama tidak memberitahu teman-teman kalau aku masuk rumah sakit. Ketika aku tidur-tiduran dokter masuk untuk memeriksa. “selamat pagi nona Tasya” sapa dokter itu ramah. “pagi juga dok” sahutku sambil tersenyum.
“bagaimana perasaannya pagi ini ?”
“sudah agak baikan dari hari kemarin dok”
“apa ada keluhan ?” tanya dokter itu sambil membuka-buka catatan yang aku sendiri gk ngerti itu apa. “gk ada dok” jawabku. “baik kalau begitu setelah melihat catatan kondisi kamu, kamu boleh pulang sore ini tapi dengan syarat harus kontrol setiap seminggu sekali” jelas dokter itu. ‘hah koq dimajukan lagi, kemarin-kemarin dua minggu sekali, huff malas banget’ keluhku dalam hati. “bagaimana nona Tasya ?” tanya dokter membuyarkan lamunanku. “oh baik dok” jawabku terpaksa. “oke, suster tolong infusnya dilepas saja ya” katanya pada perawat yang mendampinginya. “baik dok” jawab perawat itu.
Setelah dokter dan perawat itu keluar, mama terbangun. “apa kata dokternya Tasya ?” tanya mama. “Tasya boleh pulang sore ini” jawabku singkat.
“lalu ?” tanya mama tak puas. “lalu apanya ma ?” tanyaku. “lalu apalagi kata dokternya ?” mama memaksa. “huh.. Tasya harus kontrol setiap seminggu sekali” jawabku akhirnya. “Nah itu yang mama tunggu, dengar ya Tasya mama gk mau melihat tumpukan surat kontrol kamu lagi” jelas mama sambil mengguncang-guncang bahuku. “iya mah iya” sahutku dengan malas.
***
Sore itu aku tiba di rumah. Aku berdiri di depan jendela kamarku dan menghela napas panjang. Tiba-tiba aku mendengar suara motor yang tak asing lagi ditelingaku memasuki halaman rumah. Aku buru-buru keluar dan membuka pintu. “eh Adit, ada apa ?” sapaku. “hmm aku mau ajak kamu keluar, bias gk ? tadi siang aku mau ajak kamu ke puncak tapi tadi gk ada orang di rumah kamu. Kamu dari mana aja tadi pagi juga kamu gk sekolah” kata Adit panjang lebar. “oh itu, tadi pagi aku mengunjungi bibi di rumah sakit” kataku berbohong. “oh ya udah, kamu bisa keluar gk ?” tanyanya lagi. Aku terdiam.
“siapa Lara ?” tiba-tiba mama muncul. “ini mah, teman” sahutku. “Assalamualaikum tante” sapa Adit dan menyalami mamah. “Waalaikumssalam” jawab mama. “koq gk diajak masuk, masuk yuk” ajak mamah. “disini aja tante, Cuma mau izin ajak Tasya keluar sebentar, boleh gk tante ?” kata Adit. Sejenak mamah mengamati Adit. “boleh aja koq, tapi jangan lama-lama ya” sahut mamah akhirnya. “baik tante” kata Adit.
Setelah ganti pakaian, aku dan Adit meluncur dengan CBR silvernya menuju taman di pinggiran kota. “ngapain kamu ajak aku kesini ?” tanyaku sambil berjalan menuju salah satu kursi taman . “aku mau ngomongin sesuatu ke kamu” sahut Adit sambil membuntutiku.
“mau ngomongin apa ?” tanyaku kemudian duduk di kursi. Adit tidak menjawab. Ia berdiri di hadapanku dan merogoh kantongnya. Tiba-tiba ia berjongkok dihadapanku dan membuka kotak mungil yang ia ambil dari kantongnya.
“izinkan aku melihatmu mengenakan ini” kata Adit sambil mengeluarkan klung permata berbentuk gembok hati. Indah sekali.
“Tasya, apa kamu mau menjadi teman hidupku untuk yang terakhir kalinya. Jika kamu mau, izinkan aku melingkarkan kalung ini di leher kamu. Namun jika tidak, simpanlah kalung ini sebagai kenang-kenangan bahwa aku pernah memilih hatimu” rangkain kata-kata Adit semakin membuatku terharu. Aku meraih tangannya, menggenggamnya erat, menatapnya kemudian mengangguk. Adit tersenyum kemudian berjalan ke belakangku dan mengenakan kalung itu di leherku. “terima kasih Tasya” katanya sambil memelukku dari belakang. Aku mengangguk. Kami pun menghabiskan waktu berdua hingga matahari terbenam.
***
“Tasyaaa…!!!” aku terkejut mendengar teriakan mamah. “Tasya kamu kenapa, dari tadi mamah lihat kamu senyum-senyum sendiri” kata mamah menyelidiki. “gk kenapa-kenapa koq mah” aku kaget, ternyata sedari tadi mamah memperhatikanku. “sudah, kamu siap-siap sana, jangan bilang kalau hari ini kamu lupa control lagi”. ‘oh iya aku lupa kan hari ini hari kamis, saatnya aku kontrol’ pikirku lalu melangkah dengan malas.
Tiba di rumah sakit aku segera menemui dokter Ahmad. Aku senang banget. Katanya keadaanku meningkat drastic dan ada harapan untuk bisa sembuh asalkan aku sering control dan therapy. Inilah bukti keajaiban tuhan.
Ketika keluar dari ruang control, aku melihat perawat dan beberapa orang sedang mendorong ranjang pasien diikuti dengan satu keluarga yang menangis histeris. Aku sepertinya mengenali sosok yang terbaring di ranjang itu, ‘Adit !’ aku segera tersadar. “mah, mamah pulang duluan aja ya, Tasya mau menengok teman sebentar” kataku pada mamah. “siapa yang sakit Sya ?” Tanya mamah. “temen mah” sahutku singkat. “ya udah mamah pulang duluan”. “iya mah”. Setelah mamah pergi, aku segera menyusul Adit.
“Adit..” aku tak mampu lagi melihat wajah Adit yang pucat pasi. “kamu siapa ?” Tanya seorang cewek yang aku duga itu adalah kakaknya Adit. “aku Tasya kak” jawabku. “oh kamu yang namanya Tasya, Tasya tolong beri kekuatan sama Adit, sejak tadi hanya namamu yang dipanggil Adit” potong ibu Adit dengan mata sembab. “tante.. Adit kenapa ?” aku bertanya dengan terbata-bata. “apa Adit gk pernah cerita ke kamu kalo dia hidup hanya dengan satu ginjal ?” Tanya kakak Adit yang ternyata bernama Dea itu. “apa.. kenapa Adit gk pernah cerita sama aku” aku merasa sangat terpukul. “ginjal Adit terpaksa diangkat karena kecelakaan dua tahun lalu, ginjal kirinya terpaksa diangkat demi keselamatannya. Adit bisa hidup seperti orang biasa namun ia tidak bisa melakukan aktifitas seperti manusia normal yang memiliki dua ginjal. tapi Adit gk pernah mau mendengar kata-kata dokter, dia banyak mengikuti kegiatan diluar sekolah. Ia ikut club basket kecamatan. Dan ketika sedang berlatih tadi dia tiba-tiba pingsan” kak Dea menjelaskan dengan bercucuran air mata. “kak, apa yang bisa aku lakuin untuk Adit ?” kak Dea menggenggam erat tanganku “tolong kamu senangkan hatinya, buat dia merasa bahagia”. Aku melihat dokter keluar dari ruang ICU. “ada keluarga yang bernama Tasya ?” Tanya dokter itu. “saya dok” jawabku. “silahkan masuk, pasien sedari tadi hanya menyebut nama anda, yg lain harap tenang di luar”. “baik dok”.
Aku masuk ke ruang dimana Adit terbaring lemas. “Adit..!” aku menjerit melihat tubuh Adit yang banyak dipasangi alat untuk menopang kehidupannya. Adit hanya melirikku tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku menggenggam erat tangannya. “Dit, kamu harus bertahan demi aku dan keluargamu” aku memeluknya dan meneteskan air mata. “Sya, kamu koq cengeng banget aku gk pernah melihat kamu seperti ini dan aku gk ingin melihatnya” Adit berkata sambil mengusap air mataku. “Adit, gimana aku gk cengeng kalo ngeliat kamu dalam keadaan seperti ini” aku sesenggukan. “kamu jahat Dit, kenapa kamu gk pernah cerita ke aku tentang penyakit mu” lanjutku. “Tasya, aku gk mau kamu saying sama aku hanya karena kasihan sama aku” katanya memelas. “nggak Dit, aku saying kamu karena hatimu, aku cinta sama kamu” air mataku tak berhenti mengalir. “saying, aku gk mau lihat kamu begini, aku mau melihat kamu tersenyum untuk terakhir kalinya, aku ingin melihat kamu bahagia sayang” ujar Adit dengan tenang. Aku terpaksa tersenyum dan menggenggam erat tangannya. “sayang, aku mau kasih sesuatu ke kamu” Adit mengambil sesuatu dari saku celananya. Kotak mungil. “apa itu ?” tanyaku. “aku mau kamu membukanya saat tiba di rumah dan kamu harus membukanya sendirian” aku hanya mengangguk.
“sayang, boleh gk aku mengecup keningmu untuk kali ini saja ?” lagi-lagi aku mengangguk dan mendekatkan wajahku. Adit menciumku dengan lembut. “aku ingin memelukmu sayang” adit berkata sambil menarik tubuhku. Aku sangat terharu. Kubalas pelukannya. Sangat erat. Cukup lama kami larut dalam pelukan. “Dit, aku sayang banget sama kamu” kataku masih dalam pelukannya. “Adit…” aku memanggilnya karena lama tak ada jawaban. Aku melepaskan pelukanku. Kutatap wajahnya. Matanya tertutup rapat. “Adiiiittt……!!! Adit kamu gk boleh pergi” aku berteriak histeris sampai dokter dan keluarga Adit masuk. Aku sangat terpukul. Rasa sedih membuat kepalaku menjadi sangat sakit dan pandanganku berkunang-kunang. Aku rebah dipelukan Adit.
Aku tersadar ketika ada yang memanggil-manggil namaku. “Tasya..Tasya bangun” aku terduduk. “kak, Adit mana ? aku Cuma mimpi kan kak”.
“gk Tasya, Adit memang sudah pergi. Sekarang Adit mau dibawa ke rumah dan dimakamkan” jelas kak Dea dengan berlinangan air mata. “kak.. Adit..” aku memeluk erat tubuh kak Dea.
***
Hingga di pemakaman, air mataku tak kering sedikit pun. Sampai pemakaman selesai aku tetap berada disisi makam. “Adit, kenapa kamu tega ninggalin aku, hanya sebentar aku merasakan kebahagiaan bersamamu” kucium berulang-ulang nisan yang bertuliskan nama kekasihku itu.
Sudahlah Tasya, melihat kamu begini akan membuat Adit semakin sedih” kak Dea merangkul bahuku dan membantuku berdiri. Sekali lagi kutatap makam yang masih basah itu. “Adit, aku gk akan pernah lupain kamu. Aku akan sering mengunjungimu. Aku gk akan pernah lupa dengan cinta kita” sekali lagi kucium nisan itu.
Tiba di rumah mama tidak ada, sepertinya mama pergi ke rumah tetangga. Aku segera menghempaskan tubuhku diranjang. Rasa sedih dan lelahku membawa aku kealam mimpi.
Aku terbangun dengan tubuh yang sakit. Kududukkan tubuhku di pinggir ranjang. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kurogoh kantongku. Kotak mungil pemberian Adit masih ada disana. Cepat-cepat kubuka. Surat. Aku segera membacanya.
Dear Tasya
Sayang, aku tau saat kamu membaca surat ini pasti aku sudah berada jauh.. sangat jauh. Gk ada seorangpun yang bisa menjangkaunya. Tapi ingatlah bahwa hatimu akan tetap berada disini. Dihatiku. Aku menitipkan kalung yang ada di dalam kotak ini ke kamu. Berikan kalung itu pada orang yang bisa buat kamu bahagia. Aku sengaja tidak memakainya waktu itu karena aku tau bahwa aku tak tak akan lama ada untukmu dan aku gk akan bisa buat kamu bahagia. Aku sudah tenang disini. Ingat pesanku, carilah kekasih yang bisa buat kamu bahagia dan berikan kalung itu padanya karena aku hidup disana, dikalung itu. Jaga diri baik-baik ya sayang. Aku mau kamu selalu tersenyum, dengan senyumanmu aku akan selalu bahagia disini.
Salam Sayang
Yang selalu merindukanmu
Adit
Aku terhenyak membaca surat itu. Buru-buru kubuka kotak itu. Ternyata didalamnya ada kalung berbentu kunci kati. Kuraba leherku. Oh kalung gembok itu masih ada disini. Kudekap erat kalung itu. ‘Adit, aku akan melakukan pesanmu’ janjiku dalam hati.
***
Hari-hari berlalu. Aku berusaha ceria walaupun terkesan terpaksa. “heyy..” Andriel membuyarkan lamunanku. “kampret loe, ngagetin aja” sungutku. “he..he..he” Andriel hanya nyengir. Aku pergi dan menghentakkan kaki dengan keras, aku tak sadar kalau bajuku tersangkut di meja dan itu menyebabkan aku nyaris terjatuh. Andriel yang berdiri tepat di belakangku langsung menyambut tubuhku yang hampir saja terjatuh.
Suasana hening, semua mata tertuju padaku dan Andriel. Aku segera tersadar dan menutup bajuku yang sobek. “maaf” kata Andriel. “nih pakai jaket gue” katanya lagi sambil menyerahkan jaket hijaunya itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Kuraih jaket itu lalu kukenakan.
Jam pelajaran berlangsung, aku mengikutinya dengan perasaan berbeda. Ada rasa bahagia, sedih, ceria, kecewa bercampur aduk. Aku gk ngerti dengan perasaanku. Ada apa denganku, semua perasaan itu membuat dadaku nyesek. Kulihat Andriel yang duduk disebelahku. Ternyata dia juga melihat kearahku. Mata kami bertatapan. Buru-buru kutundukkan kepalaku.
***
Sore itu aku duduk di teras rumah sambil membolak-balik majalah. “assalamualaikum” “waalaikumsalam” jawabku sambil menengok kepada orang yang mengucapkan salam. “Andriel” aku melihatnya tak percaya. “Tasya kita jalan-jalan yuk” ajaknya. “kemana ?” “kemana aja yang penting bisa buat rasa suntuk kamu hilang” jelasnya. ‘hmm kalau dipikir-pikir boleh juga daripada di rumah gk ada kerjaan’. “oke tunggu sebentar” jawabku.
Ternyata Andriel mengajakku ke tempat yang sangat indah. Disana ada air terjun dan disekeliling banyak ditumbuhi bung-bunga. “wah keren..” gumamku.
“Kamu suka?” tanya Andriel sambil duduk disampingku. “Suka banget” jawabku dan berbaring di padang rumput sambil menikmati keindahan air terjun dihadapanku.
“Tasya, kamu melihat ada yang berbeda gk?” Tanya Andriel tiba-tiba.
“Gk tuh, emang apa yang berbeda?”
“Tuh rambut dengan alismu” katanya sambil mengacak-acak rambutku. “Hahaha” Aku memegang alisku yang sangat lebat. Banyak teman-teman bilang alisku tak jauh berbeda dengan rambutku. Yah mereka memang berlebihan.
“Rese loe” kataku sambil menonjok hidungnya yang mancung. “Awwhh” Andriel menjerit dan mengejarku yang sudah duluan berlari.
Andriel sudah dekat di belakangku, tiba-tiba dia menarikku yang membuat aku terjatuh dipelukannya. “Andriel..” aku tekejut. “Tasya izinkan aku memilikimu” Andriel menatapku lekat. “Andriel..” aku terkejut dengan kata-kata itu. Aku buru-buru melepas pegangan Andriel dan berlari kemudian duduk disebuah akar yang menjulur. Andriel mengikuti dan duduk disampingku.
“Tasya kamu kenapa?” katanya kemudian. “Aku teringat Adit” kataku sendu. “Tasya, Adit sudah bahagia disana. Kalau kamu sedih dia juga pasti ikut sedih”. Aku menatap Andriel. Ia membuka tangannya dan memelukku, aku berbaring didadanya. “Tasya aku tau kamu sedih namun kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan, lihatlah kedepan. Masih banyak orang yang menantimu, menanti senyumanmu”. Aku menatap Andriel, takjub dengan kata-katanya.
“Tasya aku sudah lama mengagumimu, namun sejak kedatangan Adit, aku melihat kalian saling cocok satu sama lain jadi lebih baik aku mundur. Aku lebih senang melihat orang yang aku sayang bahagia. Tapi sekarang aku gk mau lihat kamu bersedih aku mau kamu bahagia seperti dulu”. Andriel berkata sambil mamainkan jemariku. “Oh Tuhan, kata-kata itu mengingatkan aku pada orang yang sekarang sudah berada dipelukanmu” batinku menjerit.
“Tasya maukah kamu mendampingi hidupku?” kata-kata itu kembali terucap. Kutatap Andriel lalu mengangguk pelan. “Makasih Tasya”. Andriel mendekapku erat.
***
Hari ini aku baru saja pulang sekolah. Aku duduk didepan meja rias. Tiba-tiba mataku tertumbuk sesuatu. Kotak itu. Aku jadi teringat pesan Adit. Kuraih kotak itu dan membuka isinya. ‘Adit, aku sudah nemuin orang yang tepat’ kuambil hp yang terletak diranjang.
Andriel kamu bisa gk sore ini ke taman? >send to Andriel. Drrtt...... Klik
Bisa aja, jam berapa? <Replay.
Setelah ashar >send
Oke.
Kuhempaskan benda mungil itu dikasur.
Pukul 04:45 tepat aku berada ditaman. Tak ada seorangpun yang aku lihat. Dengan kesal aku duduk dikursi. “nunggu siapa kak” tanya seorang pengamen cilik sembari menghampiriku. “nunggu teman dik” jawabku pada anak itu. “Ini kak” katanya sambil menyerahkan seikat bunga mawar. “Dari siapa ini dik?” tanyaku heran. “untuk kakak dari seseorang” katanya. “Siapa?” tanyaku penasaran. “kata kakak itu aku gk boleh kasih tau bunganya dari siapa”. ‘polos banget anak ini’ pikirku. “Oh makasih ya dik” jawabku kemudian. “iya kak” katanya sambil berlalu.
Kuamati bunga itu. Kuhirup, wangi sekali.
“Kamu suka bunga itu?” tiba-tiba suara yang sangat kukenal mengagetkanku. “suka sekali” jawabku. “bagus deh” kata Andriel sambil duduk disampingku. “Ada apa kamu ajak aku kesini?” tanyanya lanjut. Aku segera mengeluarkan kalung yang sejak tadi ada digenggamanku. “Aku mau melihat kamu pake ini” jawabku. Andriel menatap kalung itu. Aku mengerti, kuceritakan semua pesan Adit hingga isi surat itu. Andriel mengerti, ia membiarkan aku mengenakan kalung itu dilehernya. “Bagus” kataku sambil mengusap pelan wajahnya. Andriel lalu memelukku.
***
6 Tahun kemudian...
Aku Tasya Chintya Tasya, sedang asik memilih-milih bahan makanan untuk satu minggu kedepan. Tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang mungil berlari-lari menghampiriku.
“Bunda..bunda Lala pengen beli ini” katanya sambil mengancungkan sebungkus permen. “Oh boleh sayang kamu minta uang sama ayah ya, ayah kamu mana?” kataku sambil tersenyum manis.
“Eeehh Della, kamu disini sayang, dari tadi ayah cariin sini sayang jangan gangguin bunda” kata ayah dari gadis mungil itu yang tak lain adalah Andriel.
Yeahh 3 tahun yang lalu aku menikah dengan Andriel dan telah dikaruniai anak yang kuberi nama Della Anastasya. Aku sengaja memberi nama itu karena aku tau kalau Adit dulu suka membaca buku karangan Della Anastasya.
“Bunda pulang yuk, Lala pegel nih” gadis mungil itu membuyarkan lamunanku. “Iya sayang bentar ya bunda mau bayar dulu, Lala ikut sama ayah dulu ya” jawabku sambil meraih sayur bayam kesukaan Andriel. “Sini sayang ikut ayah” kata Andriel kemudian sambil menuntun tangan mungil Lala. “Bunda, ayah sama Lala tunggu diluar ya” kata Andriel sambil mengecup keningku. “Ya ayah” sahutku kemudian kembali menyibukkan diri mencari sayuran yang belum dibeli.
***
Tiba dirumah aku segera memasak makanan yang kubeli tadi. Saat sedang makan aku teringat sesuatu.
“Yah gimana kalau nanti sore kita ke makam Adit” usulku. “Oh boleh banget bunda, kita ajak Lala agar bisa melihat ayah pertamanya” kata Andriel sambil tersenyum.
“Bunda, memangnya ayah Lala berapa?” tanya anak manis itu yang membuatku semakin gemas. “Tuh kan ayah jelasin gih ke Lala” aku mengerling kearah Andriel.
“Lala sayang, Lala itu punya 2 ayah dan ayah Lala yang pertama itu sayang banget sama Lala ayah Lala itu mau melihat Lala” Andriel menjelaskan. “Oh Lala mau ketemu ayah pertama” serunya kegirangan. Aku hanya geleng-geleng kepala.
Sore itu aku, Andriel, dan Della telah berdiri didepan sebuah makam yang bersih terawat. Dibatu nisan itu tertulis.
Aditya Ranggadinata bin Abdi Ranggadinata
Lahir: Selasa, 02 Mei 1987
Wafat: Kamis, 28 Mei 2004
Hatiku bagai disayat membaca tulisan itu. Andriel memimpin membaca surat yasin. Setelah selesai, aku mencium nisan itu. “Dit, aku sudah mengabulkan keinginanmu. sekarang aku sudah memiliki anak, anak Andriel yang berarti anak kamu juga. Karena kamu pernah bilang kalau kamu hidup dikalung kunci hati itu dan sampai sekarang kalung itu masih dikenakan Andriel, aku bahagia Dit aku harap kamu juga bahagia disana” aku kembali meneteskan air mata. Lala malaikat kecilku hanya menatapku. Kulihat ada wajah Adit tergambar dengan jelas disana dan tersenyum padaku.
Andriel membantuku berdiri. Ia merangkul ku sebelah bahu dan Lala berdiri didepan antara aku dan Andriel. Aku merebahkan kepalaku dikepala Andriel. Tiba-tiba kalungku dan kalung kunci milik Andriel bergerak. Buah kalung Andriel pas masuk dilubang gembok milikku. Aku terkejut, aku baru menyadari kalau dibuah kalung itu terdapat magnet.
Belum hilang rasa terkejutku tiba-tiba buah kalung gembok berbentuk hati milikku terbuka. Aku melihat gembok itu terbelah dua. Dihati sebelah kanan aku melihat foto wajahku sewaktu SMA, disebelah kiri aku melihat wajah yang tak asing lagi untukku. Adit. Tubuhku bergetar, kutatap lekat-lekat kalung itu ‘Adit aku gk nyangka kamu memberi aku kejutan yang luar biasa ini’ kutatap wajah Andriel ia tersenyum padaku dan memeluk tubuhku.
“Bunda...” suara mungil itu mengagetkanku. Andriel melepaskan pelukannya. “Iya kenapa sayang?” aku berjongkok disamping anak semata wayangku itu.
“Ayah pertama kapan datang sih, kok lama banget. Lala kan udah gk sabar bunda” katanya manja. “Lala, ayah pertama ada kok disini” jawabku “Hah.. Mana bunda?” ia melonjak kegirangan. “Tuh dihadapan Lala” sahutku. “Aahh bunda, inikan cuma tumpukan tanah” tingkah Della membuat aku tersenyum. “Della inilah ayah pertama kamu, ayah Lala tinggal disana sama Allah” kataku menjelaskan. “Oh gitu ya bunda” ia mengangguk. “Iya sayang”.
Della berjalan kearah nisan yang tertulis nama ayah pertamanya itu. “Ayah pertama, Lala sayang sama ayah pertama. Ayah pertama juga sayang kan sama Lala” bibir mungilnya bekata sambil memeluk nisan itu. Aku dan Andriel terharu melihatnya.
“Lala pulang yuk sayang” kata Andriel. Della menatap Andriel sejenak lalu menatapku dan kembali ke batu nisan itu. “Ayah pertama, Lala pulang dulu ya nanti Lala main-main kerumah ayah lagi daagh ayah, emmuach” Della mencium nisan itu berkali-kali. Aku menuntunnya pulang. Sejenak kutatap nisan itu “Adit kami pamit ya aku harap kamu bahagia disana” kucium sekali lagi nisan itu.
Andriel ikut memegang nisan itu “aku akan buat Tasya bahagia, semoga kamu tenang disana”.
“Daagghh ayah pertama, emuachh” Della ikut-ikutan.
Aku memegang tangan kanan Della dan Andriel memegang tangan kirinya. Kami melangkah bersama meninggalkan pemakaman itu untuk menyongsong hari yang baru.
Aku melihat kelangit, disana terlukis wajah Adit, ia tersenyum kubalas senyumannya itu. “Aku telah bahagia disini Tasya, jaga anak kamu dan Andriel seperti kamu menjaga cinta kita yang tak pernah bisa dimakan waktu dan usia” aku mendengar bisikan itu.
“Aku sayang kamu Tasya” suara itu kembali terngiang ditelingaku.
“Aku juga sayang kamu Dit, cinta kita akan abadi selamanya”
Aku tersenyum dan melangkah sembari membuka lembaran baru bersama anak dan suami ku tercinta.
Langganan:
Postingan (Atom)